Belajar Filsafat, Belajar Berpikir.
Pada dasarnya, manusia memiliki kelebihan daripada makhluk hidup lain di dunia ini yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa, Alloh subhanahu wa ta’ala, yaitu hewan dan tumbuhan misalnya. Meskipun secara fisik hewan memiliki organ tubuh bernama otak, namun hewan tidak mampu mengembangkan pikirannya kecuali sebatas kodratnya, semisal berpikir bagaimana menerkam mangsa, melawan musuh, bereproduksi dan lain sebagainya. Hanya sebatas kebiasaan, yang dibawa sejak lahir atau dapat dikatakan hanya berdasar atas nalurinya sebagai hewan saja. Sedangkan tumbuhan, secara fisik ia tidak mempunyai organ otak yang bisa digunakan untuk berpikir, sehingga dimensi manusia secara fisik sudah unggul, karena manusia mempunyai organ otak yang mampu mengembangkan informasi yang masuk di dalamnya, hingga mampu mensintesis sebuah informasi baru yang jauh lebih maju meninggalkan pikiran – pikiran yang dianggapnya sudah tidak realistis. Inilah kelebihan manusia daripada mkhluk hidup lainnya.
Potensi manusia dalam hal kemampuan mengolah informasi yang masuk ke dalam pikirannya ini, menjadikan manusia, oleh Tuhan YME,Alloh SWT, diberikan tugas yang sangat besar dan penting di muka bumi ini, yaitu sebagai seorang hamba yang menyembah kepada-Nya dan seorang kholifatullah fil ardhi (pemakmur bumi). Banyak dalam Al Qur’an, Allah SWT perintahkan manusia menngunakan akal pikirannya ini untuk memikirkan tanda – tanda kebesaran-Nya yang ada di seluruh dunia ini. Maka sudah semestinya, seorang manusia yang beriman kepada Tuhan YME, Allah SWT, benar – benar menggunakan potensinya, yaitu akal yang mampu mengolah informasi – informasi ini untuk mennjalankan dua perannya ia diciptakan di dunia ini.
Dalam usaha – usaha menghasilkan pikiran – pikiran baru, yang belum pernah orang lain memikirkannya, manusia sejak zaman dahulu sudah saling berlomba menerapkan metode olah pikir yang sering disebut filsafat.
Filsafat sama halnya dengan olah pikir. Berfilsafat dapat diartikan usaha mengolah pikiran untuk melahirkan pikiran – pikiran baru, berupa sebuah gagasan, pemahaman, pengertian, ide, dan lain sebagainya. Namun, perlu diperhatikan bahwa dalam Islam, ada batasan – batasan yang manusia dilarang untuk memikirkannya karena manusia secara kodrat tidak mampu memikirkannya, hanya akan melahirkan kesesatan karena salah dalam memahaminya. Islam memberi perhatian besar kepada akal, namun juga memberi batasan agar manusia tidak melampaui batas menuju kesesatan, yaitu kesalahpahaman mengenai Tuhan dan hal - hal ghaib, yang tidak mampu dipikirkan, karena informasi ini hanya diperoleh dari wahyu dari Allah SWT saja. Yaitu Al Qur’an dan Hadits shohih dari Rosulullah SAW. Selama Al-Qur’an dan Hadits Rosulullah SAW yang shohih tidak menjelaskannya, maka tidak ada sumber infomasi lainnya.
Karena itulah, DR. Marsigit dalam perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika, senantiasa mengaitkan materi – materinya dengan sisi – sisi spiritual, yaitu sebuah ketundukan manusia yang lemah dihadapan kebesaran Allah SWT, dengan tidak melampaui batasan – batasan berpikir. Inilah yang kita pelajari di mata kuliah Filsafat Pendidikan Matematika yang diampu oleh beliau DR. Marsigit, yaitu bagaimana kita belajar mengolah pikiran kita untuk dapat menjalankan peran kita sebagai pendidik dengan baik, dengan tidak melampaui batasan – batasan yang telah Tuhan YME Allah SWT tetapkan. Wallohu a’lam
Senin, 25 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar